Minggu, 18 November 2018

ROSELLA DI KEBUN BUAH BAPAK MARUDIN GINTING DI MINAS (RIAU)


Dalam satu kesempatan saat berkunjung ke kebun Bapak Marudin Ginting di Kelurahan Minas Jaya, (Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau) [Selasa 13/11], kami menemukan beberapa tanaman unik yang memang sengaja ditanam oleh pak Ginting di kebun buahnya tersebut, salah satunya rosella. Bahkan, ada juga beberapa tanaman yang memang endemik hutan tropis termasuk Sumatera yang kami temui di lahan yang telah dikuasai dan diusahainya sejak 1998 ini, seperti anggrek hutan, napenthes (kantung semar) dalam beberapa varian warna yang tumbuh liar.



Bapak Marudin Ginting mengaku kalau dia memperoleh bibit (biji) rosella ini dari teman beberapa tahun lalu, dan mencoba menanamnya dan ternyata dapat tumbuh dengan baik. Kepada kami, dia mengatakan kalau tumbuhan rosella ini sering dia bawa ke Pekan Minas untuk dijual. Awalnya tidak laku karena jarang yang mengenal tumbuhan ini. Namun seiring waktu, rosella mulai dikenal dan diketahui kegunaan dan manfaatnya, sehingga berangsur ada juga yang membelinya.



Rosella (rosela), atau juga disebut asam paya, asam kumbang, asam susur yang dalam bahasa Latin disebut Hisbiscus sabdariffa, merupakan tumbuhan jenis bunga yang berasal dari Benua Afrika.

Tumbuhan ini selain sebagai hiasan di pekarangan (karena bentuknya yang unik dan cantik), juga bisa dimakan. Biasa diseduh menjadi minuman hangat atau dingin. Ada juga yang menguleknya sebagai asam untuk ulekan bumbu (sambal).

Dari laman wikipedia kami ketahui, kalau tanaman ini di daerah asalnya di Afrika juga dipergunakan sebagai selai atau jeli. Di Jamaika dijadikan salad, dimakan mentah, atau juga untuk pengisi kue (mungkin seperti kacang, berry, pala, kismis, dsb). Orang Sudan menjadikan rosella sebagai minuman keseharian yang dicampur dengan garam, gula, merica dan tetes (sari) tebu. 

Ada juga yang mengatakan kalau rosella ini sebagai minuman diet, bahkan untuk obat batuk, dsb.
Rupanya memang unik dan cantik. Warna bunga dan batang yang merah darah (gelap), serta daummya yang hijau tampak kusam, membuat tanaman ini tampak cantik menghiasi kebun atau pun pekarangan rumah.




Mejuah-juah Indonesia! 




Kamis, 15 November 2018

U A N G




U A N G


Banyak mengatakan: “uang bukan segalanya”
Nyatanya, uang mengatur segalanya
Banyak juga mengatakan: “uang tak membahagiakan”
Nyatanya tiada kesenangan yang tampa uang

Hidup bukan untuk uang
Bekerja bukan juga mengejar uang
Lantas, mengapa tiada uang hidup serasa sengsara?
Jua, tiada uang tiada barang dan jasa?

Jika ditanya, pilih cinta apa uang?
Hanya syair pujangga yang pilih uang.
Lagi kalau ditanya, “pilih nyawa apa uang?”
Ini baru jawabnya bukan uang!

Sebab ‘tak bernyawa apa arti uang?
Sebab jika masih bernyawa tentu bisa mencri uang.
Jadi apapun ceritanya,
Uang, uang tetap jadi segalanya.

Puisi: SEPI -- LEKASLAH BERGANTI






SEPI -- LEKASLAH BEGANTI



Sepi.
Lekaslah kau pergi.
Berganti, ganti, ganti.

Sunyi.
Henyahlah kau pergi.
Berganti, ganti, ganti.

Rasa ini.
Sunyi dan sepi.
Semoga tak tumbuh rasa benci.

Dalam sepi aku berjalan
Menepi pada relung hati
Tetapi sepi, tak lekas berganti

Dalam sunyi kucoba berlari
Menjauh dari nurani
Tetapi sunyi tak juga berganti

Apakah hati ini akan tetap sepi?
Juga tetap hidup ini sunyi?
Jangan! Jangan! Aku tak mau lagi.

Lekaslah berganti
Aku tak ingin lagi, sunyi – sepi